Wali Kota Manado Jadikan Hasil Kajian Regional Diagnostic 2025 sebagai Referensi Arah Pembangunan Daerah

berita terbaru, Manado1769 Dilihat

MONITORSULUT——-Wali Kota Manado Andrey Angouw menegaskan pentingnya hasil kajian akademik sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.

Hal itu disampaikan saat menghadiri Diseminasi Temuan Utama Kajian Regional Diagnostic Tahun 2025 yang berlangsung di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPKSDM) Kota Manado, Selasa (10/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota menyampaikan apresiasi kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Persero yang telah menjadikan Manado sebagai salah satu dari enam daerah di Indonesia yang menjadi objek kajian.
Menurutnya, hasil kajian tersebut sangat penting sebagai bahan referensi dalam menentukan arah program dan kebijakan pembangunan di Kota Manado ke depan.

“Kami berterima kasih karena Manado menjadi salah satu daerah yang dikaji. Saya ingin mendengar langsung materi yang dipaparkan agar bisa menjadi referensi dalam menyusun program dan kegiatan pembangunan di Kota Manado,” ujar Wali Kota.

Kajian Regional Diagnostic Tahun 2025 sendiri dilaksanakan oleh PT SMI bekerja sama dengan International Center for Applied Finance and Economics Fakultas Ekonomi dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (InterCAFE FEB IPB). Kajian ini memuat analisis komprehensif mengenai kondisi sosial, ekonomi, fiskal, infrastruktur, hingga potensi sektor unggulan serta kapasitas keuangan daerah.

Selain itu, kajian tersebut juga mengidentifikasi tantangan serta peluang dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur di daerah.

Dalam sesi dialog, Wali Kota turut memberikan sejumlah pandangan terkait kondisi riil di Kota Manado.

Ia memaparkan berbagai aspek penting seperti konsep manajemen infrastruktur, pengembangan sistem air bersih, kondisi pasar tradisional, hingga fasilitas kesehatan daerah seperti RSUD dan layanan kesehatan lainnya yang sebelumnya pernah mendapat dukungan pembiayaan dari PT SMI.

Wali Kota juga menyoroti perbandingan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) antara Kota Manado dan Kota Bogor.

Ia menjelaskan bahwa PDRB Manado tercatat lebih tinggi, namun terdapat perbedaan signifikan dari sisi jumlah penduduk, kapasitas pembiayaan daerah, hingga penerimaan pajak.
Menurutnya, struktur ekonomi Manado yang dikenal sebagai kota jasa membuat sektor perdagangan menjadi salah satu penyumbang utama penerimaan daerah. Sementara sektor pariwisata dinilai masih memiliki potensi besar, namun kontribusinya terhadap pendapatan daerah belum signifikan.

“Dengan adanya kajian ini, pemerintah daerah mendapatkan gambaran yang lebih jelas dalam merancang program pembangunan ke depan, termasuk mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin dihadapi,” katanya.

Sekretaris Kota Manado, dr. Steaven Dandel, M.Ph, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga memberikan tanggapan terhadap hasil kajian. Ia menilai temuan kajian tersebut dapat menjadi acuan penting dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan, khususnya terkait pengembangan infrastruktur daerah.

Dalam diskusi juga mencuat sejumlah isu strategis, seperti penanganan sampah, asumsi pertumbuhan PDRB, serta upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan PT SMI, Prof. Bambang dari FEB IPB, akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), para kepala badan dan dinas di lingkungan Pemerintah Kota Manado, Direktur Perumda Pasar Manado, perwakilan PDAM Wanua Wenang, perwakilan Bank Sulut, Asosiasi Hotel, serta sejumlah undangan lainnya.

 

(Yulia)