MONITORSULUT ,MANADO —–— Sulawesi Utara kembali membuka peluang baru di sektor pariwisata. Kali ini bukan sekadar wisata bahari atau pegunungan, melainkan pengembangan sleep medicine atau layanan kesehatan gangguan tidur sebagai kekuatan baru dalam industri health & wellness tourism.
Dalam pertemuan bersama Tim Ahli Gubernur Sulawesi Utara, spesialis kesehatan tidur dr. Riane Anggreani, Sp.PN, F-PSG mengungkapkan bahwa layanan pemeriksaan gangguan tidur memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan mancanegara datang ke Sulawesi Utara.
Menurutnya, tingginya kebutuhan layanan sleep medicine di berbagai negara belum diimbangi dengan ketersediaan fasilitas yang memadai. Di sejumlah negara maju seperti Amerika, Eropa, Singapura hingga Bangkok, antrean pemeriksaan gangguan tidur bahkan bisa mencapai berbulan-bulan.
Kondisi tersebut berbeda dengan Manado yang dinilai memiliki akses pemeriksaan lebih cepat, efisien, serta biaya layanan yang jauh lebih kompetitif.
“Ini menjadi peluang besar bagi Sulawesi Utara untuk berkembang sebagai destinasi sleep wellness tourism,” ungkap dr. Riane.
Ia menjelaskan, biaya pemeriksaan gangguan tidur di berbagai negara tergolong tinggi. Di Jerman misalnya, layanan home sleep test di hotel dapat mencapai 350 Euro per pemeriksaan. Di Singapura, biaya pemeriksaan serupa berkisar SGD 500, sementara pemeriksaan polisomnografi di laboratorium tidur mencapai SGD 800 hingga SGD 1.000. Bahkan di Korea Selatan, biaya layanan tersebut dapat menyentuh USD 1.150.
Melihat kondisi tersebut, Sulawesi Utara dinilai memiliki peluang besar menghadirkan konsep wisata kesehatan tidur yang memadukan layanan medis dengan pengalaman relaksasi di kawasan tropis, wisata bahari, pulau hingga dataran tinggi.
Apalagi saat ini laboratorium tidur di kawasan Indonesia Timur berada di Manado. Posisi strategis tersebut menjadikan Sulut berpotensi sebagai pusat layanan sleep medicine di Indonesia Timur sekaligus calon destinasi medical and wellness tourism baru di kawasan Asia Pasifik.
Tidak hanya itu, beberapa layanan pemeriksaan polisomnografi juga dapat ditanggung asuransi kesehatan internasional sesuai ketentuan polis wisatawan. Hal ini dinilai semakin membuka peluang masuknya wisatawan asing untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sekaligus menikmati destinasi wisata Sulawesi Utara.
Sementara itu, Tim Ahli Gubernur Sulawesi Utara Dr. Drevy Malalantang bersama Prof. dr. Vanda Doda menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE terus mendorong diversifikasi produk pariwisata, termasuk pengembangan sektor health & wellness tourism.
Menurut Drevy, Sulawesi Utara memiliki kekuatan yang lengkap untuk masuk dalam peta wisata kesehatan nasional maupun internasional.
“Sulut memiliki aset pendukung seperti atraksi wisata, amenities pendukung seperti hotel, resort bahkan instalasi medik, serta SDM yang kompeten dan ahli yang dapat dikemas dan dipromosikan baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Malalantang.
Didukung penerbangan internasional, keindahan wisata bahari dan dataran tinggi, udara tropis yang nyaman, hingga biaya layanan kesehatan yang kompetitif, Sulawesi Utara kini dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu destinasi unggulan health & wellness tourism berbasis sleep medicine di Indonesia.












