Seorang Nelayan Ditemukan Tewas, Polisi Bongkar Dugaan Penyelundupan 3 Ton Sianida dari Filipina

Indeks8 Dilihat

Sitaro, Monitorsulut.com- Warga Kampung Balirangen Lindongan III, Kecamatan Siau Timur Selatan ( Sitimsel), Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), digegerkan dengan penemuan jenazah seorang nelayan bersama puluhan karung bahan kimia berbahaya, Selasa (19/5/2026) dini hari.

Korban diketahui bernama Junior Kristianus Darui. Jenazahnya ditemukan di dalam sebuah perahu yang kandas di pesisir pantai depan kampung Balirangen sekitar pukul 01.00 WITA.

Selain korban, di dalam perahu terdapat dua pria lain masing-masing Rifki Lukas (40), warga Kima Bajo, Kecamatan Wori, Minahasa Utara, dan Marthen Hoan (50), warga Kecamatan Tumintinga, Kota Manado.

Saat proses evakuasi dilakukan warga bersama aparat, ditemukan sebanyak 60 karung diduga berisi sianida dengan berat sekitar 50 kilogram per karung atau total mencapai kurang lebih 3 ton.

Kepala Desa Balirangen, Radaeng Antameng, mengatakan warga awalnya menerima informasi adanya perahu kandas di depan kampung. Ia kemudian mengajak masyarakat melalui Megafon ( Toa) untuk membantu menarik perahu ke daratan.

Namun proses evakuasi berlangsung cukup sulit karena kondisi air laut sedang surut.
“Perahu baru bisa diangkat sekitar pukul empat pagi karena tertahan cukup jauh dari bibir pantai,” ujarnya.

Setelah berhasil dievakuasi, warga mencium bau menyengat dari dalam perahu.

Polisi yang berada di lokasi kemudian menduga muatan di dalam karung merupakan zat kimia berbahaya jenis sianida.

Kasat Narkoba Polres Kepulauan Sitaro, IPTU Recky Marthin, menjelaskan hasil pemeriksaan sementara mengungkap perjalanan para saksi bersama korban bermula setelah beberapa hari perjalanan laut, mereka justru tiba di Kota General Santos, Filipina, dan dijemput seorang pria.
“Mereka mengaku tidak mengetahui kalau lokasi itu berada di Filipina,” kata Recky.

Di lokasi tersebut, para saksi diajak makan dan berkeliling. Ketika kembali ke perahu pada malam hari, muatan berupa puluhan karung sudah berada di atas kapal. Para saksi mengira barang tersebut merupakan pakan ternak seperti yang sebelumnya dijanjikan.

Rombongan kemudian kembali berlayar dan sempat singgah di wilayah Sangihe untuk mengambil bekal sebelum melanjutkan perjalanan menuju Manado.

Sebelum melanjutkan perjalanan, seorang pria bernama Ivan Kondoai disebut meminta dilakukan pertukaran perahu antara korban dan salah satu pria lainnya. Namun Junior Darui menolak karena merasa bertanggung jawab atas perahu yang digunakannya.
Pertukaran hanya dilakukan dengan seorang pria bernama Yus yang menggunakan perahu lain.

Tak lama setelah perjalanan dilanjutkan, korban mengeluh mual dan memilih beristirahat di dalam perahu. Saat hendak diajak makan, korban tetap tertidur. Beberapa waktu kemudian, para saksi mencoba membangunkannya dan mendapati Junior Darui sudah meninggal dunia.
Para saksi lalu menghubungi Ivan Kondoai dan diarahkan membawa jenazah korban ke Pulau Siau untuk diserahkan kepada pihak keluarga di Balirangen.
“Di tengah perjalanan, Yus yang menggunakan perahu lain justru memutar arah dan melarikan diri,” ungkap Recky.

Setelah perahu tiba di Balirangen dan jenazah korban dievakuasi pihak keluarga, polisi melakukan pemeriksaan terhadap kapal dan menemukan puluhan karung diduga berisi sianida.
Dua saksi bersama barang bukti langsung diamankan ke Polres Kepulauan Sitaro untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Pada hari yang sama, warga kembali menemukan satu perahu lain di wilayah Pantai Talawid dengan muatan serupa. Polisi menduga perahu tersebut merupakan kapal yang digunakan Yus saat melarikan diri.

Ketika aparat tiba di lokasi, perahu ditemukan dalam keadaan kosong tanpa awak.
“Menurut informasi warga, orang tersebut sudah pergi menggunakan ojek beberapa menit sebelumnya,” kata Recky.

Polisi kemudian melakukan pencarian hingga ke Pelabuhan Ulu dan KM Lohoraung di Pelabuhan Pehe, namun keberadaan Yus belum berhasil ditemukan.

Dari hasil pengembangan, aparat juga memperoleh informasi mengenai sebuah mobil pikap yang diparkir di kawasan pantai Kima Bajo dan diduga akan digunakan untuk mengangkut muatan sianida tersebut.

Hingga kini, polisi masih mendalami asal-usul muatan sianida, jaringan penyelundupan lintas batas yang terlibat, serta penyebab pasti kematian Junior Kristianus Darui.