Mahasiswa Farmasi Unsrat Olah Limbah Sabut Kelapa Jadi Spray Hydrogel untuk Luka Diabetes

MONITORSULUT,MANADO — Limbah sabut kelapa muda yang selama ini kerap dibuang ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan inovasi farmasi. Mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado memanfaatkannya sebagai bahan pengembangan spray hydrogel untuk membantu penyembuhan luka diabetes.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dengan mengombinasikan nanoselulosa dari limbah sabut kelapa muda dan ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.).

Penelitian yang berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026 ini mengangkat persoalan ulkus diabetikum, yakni luka komplikasi diabetes yang membutuhkan penanganan khusus karena proses penyembuhannya cenderung berlangsung lebih lambat dan berisiko mengalami infeksi.

Berbeda dengan sediaan obat luka berbentuk konvensional, tim mahasiswa Unsrat mengembangkan formulasi dalam bentuk spray hydrogel yang dapat diaplikasikan melalui penyemprotan langsung pada area luka.

Penggunaan bentuk semprot ini dirancang agar sediaan dapat menjangkau permukaan luka dan mengikuti bentuk area yang membutuhkan perawatan.

Dalam penelitian tersebut, tim mengembangkan tiga konsentrasi formula nanoselulosa dengan ekstrak daun kersen sebesar 20 persen.

Berdasarkan hasil pengujian fisik, Formula 3 dinilai sebagai formula terbaik dan kemudian dilanjutkan pada pengujian menggunakan hewan coba model diabetes.

Hasil pengamatan selama 14 hari menunjukkan adanya penurunan diameter luka yang signifikan pada kelompok pengujian. Temuan tersebut menjadi indikasi awal potensi pengembangan spray hydrogel sebagai sediaan untuk membantu penyembuhan ulkus diabetikum.

Meski demikian, hasil penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian praklinis. Diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan serta efektivitasnya sebelum dapat digunakan sebagai terapi pada manusia.

Tim penelitian ini diketuai Rafael Lanipi, bersama anggota Andini Khoiriyah, Haliza Anggraini Wonggo, Elisabeth Debora Pintaria Sinaga, dan Theophilus Poniton Daniel Halomoan Nainggolan.

Penelitian tersebut mendapat pendampingan dari dosen Defny Silvia Wewengkang, SPIK., M.Sc., Ph.D., serta memperoleh pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kemendiktisaintek.

Rafael Lanipi menjelaskan, penelitian ini berangkat dari keinginan untuk meningkatkan nilai guna limbah sabut kelapa muda melalui pengembangan teknologi nanoselulosa.

“Kami ingin mengubah limbah sabut kelapa muda menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah melalui pengembangan nanoselulosa, kemudian mengombinasikannya dengan ekstrak daun kersen dalam bentuk spray hydrogel untuk mendukung terapi ulkus diabetikum. Kami berharap penelitian ini dapat terus dikembangkan hingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Rafael.

Dosen pendamping Defny Silvia Wewengkang mengapresiasi kreativitas tim mahasiswa yang menggabungkan pemanfaatan bahan lokal dengan teknologi farmasi.

Menurutnya, penelitian ini memiliki nilai inovasi karena memadukan pemanfaatan limbah, teknologi nanoselulosa, serta sistem penghantaran obat berbentuk spray hydrogel.

Selain berpotensi dikembangkan dalam bidang kesehatan, penelitian ini juga menghadirkan pendekatan pemanfaatan limbah yang lebih produktif.

Pengembangan tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Inovasi mahasiswa Farmasi Unsrat ini memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat menjadi bahan penelitian bernilai tambah melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *