MONITORSULUT — Menjelang momentum hari besar keagamaan yang kerap diiringi lonjakan harga, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memilih tidak sekadar menunggu dinamika pasar. Lewat Gerakan Pangan Murah (GPM), intervensi dilakukan langsung di titik-titik distribusi, memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat.
Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, bahkan turun sendiri memantau jalannya program ini di sejumlah wilayah, mulai dari Bitung, Manado, Kotamobagu hingga Tutuyan, Bolaang Mongondow Timur.
Upaya ini menjadi sinyal bahwa pengendalian harga bukan hanya urusan kebijakan di atas meja, tetapi kerja lapangan yang perlu diawasi langsung.

Di setiap lokasi, gubernur tak hanya melihat dari jauh. Ia berdialog dengan pedagang dan warga, mencocokkan harga komoditas seperti bawang, cabai, hingga daging ayam, memastikan selisih harga dengan pasar umum benar-benar terasa bagi masyarakat.
“Program ini dilakukan untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga murah. Pemerintah akan terus hadir menjaga stabilitas harga pangan,” ujar Gubernur di sela peninjauan.
GPM sendiri dirancang sebagai “rem” atas gejolak harga yang biasanya meningkat tajam jelang hari besar. Melalui operasi rutin dan koordinasi lintas sektor, pemerintah menjaga agar komoditas utama seperti beras, minyak goreng, dan telur tetap berada di bawah harga pasar.
Lebih dari sekadar program penjualan murah, GPM menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah. Distribusi bahan pokok dikawal agar merata dan tepat sasaran, sehingga tidak hanya menekan harga, tetapi juga menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

Di tengah tantangan ekonomi yang dinamis, pendekatan langsung ke lapangan seperti ini menunjukkan bahwa stabilitas pangan bukan sekadar target, melainkan komitmen yang dijaga dari hulu hingga ke tangan masyarakat. (advetorial)













