Ketika Festival Tak Lagi Sekedar Perayaan, Ada Ekonomi yang Bergerak di Dalamnya

Festival bagi sebuah daerah bukan hanya soal panggung, parade dan keramaian. Di balik acara yang berlangsung beberapa hari, ada aktivitas masyarakat yang ikut bergerak.

Ada pelaku usaha yang membuka lapak, hotel yang menerima tamu, usaha kuliner yang mendapat pembeli, jasa transportasi yang digunakan wisatawan, hingga produk lokal yang mendapatkan kesempatan untuk dikenal lebih luas.

Hal inilah yang membuat sejumlah event strategis di Sulawesi Utara memiliki arti lebih dari sekadar agenda pariwisata.

Tomohon International Flower Festival (TIFF), Likupang Tourism Festival (LTF), Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) dan Festival Tulude menjadi ruang yang mempertemukan potensi wisata, budaya, pelaku usaha dan masyarakat.

Di dalamnya, Bank Indonesia bersama mitra strategis ikut mengambil bagian.

Keterlibatan tersebut menunjukkan satu hal,event daerah dapat menjadi salah satu pintu untuk mempertemukan potensi lokal dengan aktivitas ekonomi.

TIFF menjadi salah satu event yang paling mudah menggambarkan hubungan antara festival dan aktivitas ekonomi.

Ketika kendaraan hias bergerak dalam parade dan wisatawan memadati Tomohon, yang bergerak sebenarnya bukan hanya acara di atas panggung.

Ada hotel, restoran, pedagang, pelaku UMKM, jasa transportasi dan berbagai usaha lain yang ikut melayani kebutuhan pengunjung.

Bunga yang menjadi identitas Tomohon juga tidak berhenti sebagai hiasan dalam parade. Di belakangnya ada petani, perajin dan pelaku usaha yang terlibat dalam rantai kegiatan.

Karena itu, TIFF dapat dilihat dari sudut yang lebih luas. Bukan hanya sebagai festival bunga, tetapi sebagai ruang bertemunya pariwisata, perdagangan dan ekonomi kreatif.

Di sisi lain, Bank Indonesia membawa perhatian pada bagaimana aktivitas ekonomi tersebut dapat didukung melalui sistem pembayaran yang semakin mudah dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat.

Pemanfaatan QRIS menjadi salah satu contohnya.

Bagi pelaku UMKM, pembayaran digital mungkin terlihat sederhana. Pembeli cukup memindai kode, transaksi selesai.

Tetapi di balik transaksi yang sederhana itu ada perubahan dalam cara pelaku usaha menerima pembayaran dan mencatat aktivitas usahanya.

Festival akhirnya bukan hanya tempat orang datang dan berbelanja.

Ia juga menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan cara masyarakat bertransaksi.

Likupang dan kesempatan bagi masyarakat sekitar

Potensi yang sama terlihat di Likupang.

Kawasan yang dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan Sulawesi Utara itu memiliki kekuatan pada wisata bahari dan keindahan alam.

Likupang Tourism Festival kemudian menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.

Namun, bagi masyarakat sekitar, kehadiran wisatawan memiliki arti yang lebih nyata.

Wisatawan membutuhkan makanan, minuman, transportasi, tempat menginap dan berbagai kebutuhan lain selama berada di destinasi.

Di sinilah UMKM dan pelaku ekonomi lokal mendapatkan kesempatan.

Sebuah festival mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Tetapi transaksi yang terjadi selama kegiatan dapat menjadi pengalaman bagi pelaku usaha untuk melihat apa yang dicari konsumen.

Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar bisa diperkenalkan kepada pengunjung dari luar daerah.

Dari sini terlihat bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa dipisahkan dari masyarakat yang berada di sekitar destinasi.

Destinasi boleh menjadi daya tarik utama, tetapi masyarakat lokal adalah bagian penting dari ekosistem yang ikut menghidupkannya.

Selat Lembeh, laut dan ekonomi masyarakat

Bitung mempunyai cerita sendiri melalui Festival Pesona Selat Lembeh.

Selat Lembeh bukan hanya nama sebuah kawasan. Ia melekat dengan identitas bahari Kota Bitung.

Ketika potensi tersebut diangkat melalui sebuah festival, yang diperkenalkan bukan hanya pemandangan lautnya.

Ada budaya masyarakat pesisir, kuliner, produk UMKM dan berbagai aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Festival menjadi ruang untuk mempertemukan semua unsur itu.

Wisatawan datang menikmati kegiatan. Pelaku usaha mendapatkan ruang untuk menawarkan produk. Daerah memperoleh kesempatan memperkenalkan potensi yang dimilikinya.

Di sinilah event strategis mempunyai fungsi yang lebih panjang.

Ia tidak hanya mendatangkan orang ke suatu tempat, tetapi membuka kemungkinan agar orang tersebut mengenal lebih banyak tentang daerah yang dikunjunginya.

Ketika promosi pariwisata berjalan bersama pengembangan UMKM dan sistem transaksi yang semakin mudah, maka kegiatan wisata mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Tulude, budaya yang tetap hidup

Berbeda dengan TIFF, LTF dan FPSL yang kuat dengan karakter pariwisata dan destinasi, Festival Tulude membawa kekuatan budaya masyarakat Kepulauan Sangihe.

Tulude memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat Sangihe.

Karena itu, festival ini tidak sekadar menjadi tontonan. Ada identitas dan tradisi yang terus dipertahankan.

Tetapi budaya juga dapat membuka ruang ekonomi.

Ketika sebuah event budaya menghadirkan masyarakat dan pengunjung dalam satu tempat, muncul pula kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan jasa mereka.

Keterlibatan Bank Indonesia dan mitra strategis dalam event seperti ini memperlihatkan bahwa penguatan ekonomi daerah tidak selalu berbentuk kegiatan ekonomi yang besar dan berskala nasional.

Edukasi, literasi dan pengenalan sistem pembayaran juga menjadi bagian dari proses membangun masyarakat yang semakin terbiasa dengan perubahan dalam aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, festival budaya memiliki dua sisi yang berjalan bersamaan: menjaga tradisi sekaligus membuka ruang bagi aktivitas masyarakat.

Dari empat festival, satu benang merah

TIFF, LTF, FPSL dan Festival Tulude memiliki karakter yang berbeda.

Tomohon punya bunga.

Likupang punya wisata bahari.

Bitung punya Selat Lembeh.

Sangihe punya Tulude.

Tetapi keempatnya memiliki satu kesamaan: potensi daerah membutuhkan ruang untuk diperkenalkan dan dipertemukan dengan pasar.

Festival menjadi salah satu ruang tersebut.

Di sinilah keterlibatan Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan mitra strategis menjadi menarik untuk dilihat.

Perannya tidak hanya soal hadir dalam sebuah acara.

Ada upaya mendorong UMKM agar semakin siap menghadapi pasar, memperluas penggunaan transaksi digital dan memperkuat pemahaman masyarakat mengenai sistem pembayaran serta aktivitas ekonomi yang semakin berubah.

Pada saat yang sama, pemerintah daerah memiliki peran untuk memastikan event tidak berhenti pada kemeriahan, tetapi terhubung dengan potensi daerah yang ingin dikembangkan.

Karena pada akhirnya, wisatawan yang datang tidak hanya membawa kamera.

Mereka membawa kebutuhan untuk makan, menginap, bepergian dan berbelanja.

Di sanalah ekonomi bekerja.

Apa yang tersisa setelah festival selesai?

Ini mungkin menjadi pertanyaan penting ketika sebuah event berakhir.

Setelah panggung dibongkar dan wisatawan pulang, apa yang tersisa?

Jika pelaku UMKM mendapatkan pelanggan baru, itu adalah jejak.

Jika produk lokal semakin dikenal, itu juga jejak.

Jika pelaku usaha mulai terbiasa menerima pembayaran digital, ada perubahan yang bisa dibawa pulang setelah event selesai.

Jika wisatawan kemudian mengenal destinasi lain di Sulawesi Utara, promosi daerah juga tidak berhenti pada hari terakhir festival.

Dengan kata lain, keberhasilan sebuah event tidak hanya berada pada kemeriahan ketika kegiatan berlangsung.

Ada pekerjaan yang lebih panjang setelahnya: bagaimana perhatian yang sudah datang dapat diubah menjadi hubungan yang terus berjalan antara wisatawan, pelaku usaha dan daerah.

Festival sebagai bagian dari cerita ekonomi Sulut

Sulawesi Utara memiliki banyak kekuatan yang bisa menjadi daya tarik.

Ada alam, budaya, kreativitas masyarakat dan produk UMKM.

Namun semua itu membutuhkan ruang untuk bertemu dengan masyarakat yang lebih luas.

Karena itu, festival menjadi salah satu bagian penting dalam memperkenalkan potensi tersebut.

Keterlibatan Bank Indonesia dan mitra strategis kemudian memberi lapisan lain dalam cerita itu: bagaimana kegiatan yang mendatangkan orang dapat sekaligus menjadi ruang untuk mendorong UMKM, memperkenalkan transaksi digital dan memperkuat ekosistem ekonomi daerah.

Sebuah festival memang hanya berlangsung dalam hitungan hari.

Tetapi dampaknya tidak harus berhenti ketika panggung terakhir diturunkan.

Sebab di balik parade bunga, pesona laut, destinasi wisata dan tradisi budaya, ada masyarakat yang sedang bekerja.

Ada yang menjual.

Ada yang membeli.

Ada yang mempromosikan produknya.

Ada yang mendapatkan pelanggan baru.

Dan ada pula daerah yang sedang berusaha mengubah potensi menjadi peluang.

Mungkin itulah makna yang lebih dalam dari sebuah festival,bukan hanya membuat orang datang, tetapi membuat sesuatu bergerak ketika mereka datang.

Dan ketika gerak itu menyentuh masyarakat, UMKM dan aktivitas usaha, festival tidak lagi sekadar perayaan. Ia menjadi bagian dari denyut ekonomi Sulawesi Utara.

Yulia Pricilia Walandouw
Jurnalis