MONITORSULUT,MANADO – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara bersama Pemerintah Provinsi Sulut, Pemerintah Kota Manado, Perum Bulog SulutGo, serta Satgas Pangan memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui penyelenggaraan Sinergi Pasar Murah 2026.
Upaya ini dilakukan menyusul inflasi Sulut yang secara tahun berjalan (year to date/ytd) pada Juni 2026 telah mencapai 4,48 persen, melampaui rentang sasaran inflasi nasional.
Ini juga sebagai respons atas kenaikan harga sejumlah komoditas pangan yang dalam beberapa pekan terakhir memberi tekanan terhadap inflasi daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menjelaskan kenaikan inflasi pada Juni 2026 dipicu meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit, bawang merah, dan beras akibat terganggunya pasokan serta distribusi.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera direspons melalui langkah konkret agar masyarakat tetap dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
“Sinergi Pasar Murah menjadi salah satu instrumen jangka pendek dalam menjaga keterjangkauan harga pangan sekaligus memperkuat stabilitas pasokan,” ujar Joko.
Ia menegaskan, pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, Bulog, Satgas Pangan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, mulai dari beras, cabai, bawang merah, bawang putih, gula, minyak goreng, telur, ayam, hingga aneka sayuran dan buah-buahan.
Selain menjaga stabilitas harga pangan, kegiatan ini juga dimanfaatkan BI untuk memperluas penggunaan sistem pembayaran digital melalui QRIS.
Masyarakat cukup melakukan transaksi senilai Rp73 menggunakan QRIS untuk memperoleh voucher potongan harga sebesar Rp5.000, sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Bank Indonesia ke-73.
Program tersebut juga diintegrasikan dengan layanan kas keliling dan edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah, sebagai bagian dari upaya memperluas literasi keuangan dan digitalisasi sistem pembayaran di Sulawesi Utara.
Hingga kegiatan berakhir, sebanyak 760 voucher telah dimanfaatkan masyarakat. Sementara berbagai komoditas pangan yang disiapkan dalam pasar murah antara lain 1,5 ton beras, ratusan kilogram cabai, bawang, gula, minyak goreng, telur, ayam, serta berbagai komoditas hortikultura lainnya.
Asisten II Provinsi Sulawesi Utara, Jemmy Ringkuangan, yang mewakili Gubernur Sulut, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara BI dan pemerintah daerah.
Menurutnya, sinergi tersebut menjadi bukti komitmen bersama dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan masyarakat memperoleh akses pangan dengan harga yang terjangkau.
Melalui pasar murah dan perluasan penggunaan QRIS, BI berharap masyarakat tidak hanya memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau, tetapi juga semakin terbiasa memanfaatkan transaksi digital dalam aktivitas sehari-hari.
