BI Tempuh Delapan Langkah Strategis Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Global

MONITORSULUT, MANADO – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Sedikitnya delapan langkah strategis ditempuh guna meredam tekanan eksternal sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap berlanjut.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, dalam kegiatan Bincang Media SENJA (Sinergi dan Jalin Komunikasi Bersama Media) yang diikuti jurnalis ekonomi di Manado.

Menurut Joko, tekanan global yang dipicu konflik geopolitik, tingginya suku bunga negara maju, serta menguatnya dolar Amerika Serikat menuntut Bank Indonesia mengambil langkah yang terukur agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

“Bank Indonesia mengambil bauran kebijakan yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Joko.

Ia menjelaskan, salah satu kebijakan utama adalah menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Selain itu, BI juga memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Hingga Juli 2026, kepemilikan SRBI telah menembus lebih dari Rp1.072 triliun, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap instrumen keuangan domestik.

Langkah lainnya meliputi pendalaman pasar valuta asing melalui Local Currency Transaction (LCT), penguatan intervensi di pasar valuta asing, menjaga kecukupan likuiditas perbankan, pembatasan pembelian dolar tanpa transaksi yang mendasari (underlying transaction), peningkatan pengawasan transaksi valas dalam jumlah besar, hingga pemberian insentif lindung nilai bagi investor.

Menurut Joko, seluruh kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah derasnya arus perpindahan modal global ke aset yang dianggap lebih aman.

“Stabilitas harus tetap terjaga, namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi juga harus terus didorong melalui kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran,” katanya.

Melalui forum Bincang Media SENJA, Bank Indonesia juga berharap media dapat menjadi mitra strategis dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.