Bupati Sangihe Buka Dialog dan Pawai Kerukunan Umat Beragama: Perkuat Moderasi dan Persaudaraan

Sangihe343 Dilihat

MONITORSULUT,Sangihe- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe menggelar Dialog dan Pawai Kerukunan Umat Beragama dengan mengusung tema “Moderasi Beragama: Merawat Keberagaman, Memperkuat Persaudaraan, dan Membangun Sangihe yang Rukun, Damai, dan Sejahtera, Gerbang Kerukunan di Utara Indonesia.” Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari pada Rabu (30/10/2025).

Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menyampaikan apresiasi kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) serta Kementerian Agama melalui Kanwil Provinsi Sulawesi Utara yang terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan di wilayah perbatasan NKRI ini.

Bupati menegaskan, Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki posisi strategis di perbatasan, tidak hanya sebagai pintu ekonomi dan sosial, tetapi juga gerbang informasi dan ideologi.

Di era digital, masyarakat diminta waspada terhadap masuknya ideologi transnasional, baik radikalisme keagamaan, ekstrem liberal, maupun sekulerisme global yang dapat memengaruhi cara berpikir dan kehidupan sosial.

“Generasi muda Sangihe harus memiliki ketahanan ideologis dan literasi digital yang kuat agar tidak mudah terpengaruh narasi yang dapat memecah kerukunan,” tegasnya.

Thungari juga menekankan bahwa pembangunan sosial dan spiritual di Sangihe berpegang pada falsafah hidup masyarakat, yakni “Matilang, Mateleng, Matèling su Suralungu Mètatèngkang.” Nilai tersebut mengandung makna berpikir jernih dan tenang, peka dan mau mendengar waspada dan taat aturan, serta saling menghormati dan menjaga harmoni.

Menurutnya, nilai ini merupakan bentuk nyata moderasi beragama berbasis kearifan lokal. Jika masyarakat berpikir jernih, berhati-hati bertindak, dan mengedepankan saling menghormati, maka tidak ada ruang bagi ideologi yang memecah belah.

Bupati juga memaparkan sejumlah strategi dalam menghadapi tantangan ideologi transnasional di era digital, antara lain:

1.Penguatan Pendidikan Pancasila dan Moderasi Beragama di sekolah, rumah ibadah, dan masyarakat.

2.Peningkatan Literasi Digital bagi ASN dan masyarakat untuk menolak hoaks dan menyebarkan pesan damai.

3.Kolaborasi Lintas Agama dan Budaya lewat dialog lintas iman guna memperkuat pemahaman bersama.

4.Pemanfaatan Teknologi untuk menyebarkan konten positif dan nilai kebangsaan.

5.Kewaspadaan Berbasis Kearifan Lokal agar masyarakat mampu memilah pengaruh positif dan negatif.

“Wasapada bukan berarti curiga, tetapi peka terhadap perubahan dan mampu membedakan mana yang membangun serta mana yang merusak,” jelasnya.

Thungari menegaskan bahwa dialog yang digelar bukan hanya seremoni, melainkan momentum memperteguh kesadaran bersama bahwa kerukunan dan kewaspadaan ideologi adalah fondasi penting menjaga kedamaian dan keutuhan bangsa.

“Mari kita jadikan Sangihe bukan hanya gerbang utara Indonesia, tetapi juga benteng ideologi Pancasila yang memancarkan semangat toleransi dan persaudaraan sejati dalam bingkai ‘Torang Samua Basudara’,” tutupnya. (Moy)