MONITORSULUT,MANADO – Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Sulawesi Utara periode 2026–2030, Prof. Dr. dr. Starry H. Rampengan, Sp.JP(K), FIHA, MARS, MH.Kes., mendorong perubahan pola rujukan antar-rumah sakit di Sulawesi Utara agar lebih mengacu pada kompetensi, ketersediaan peralatan medis dan kesiapan sumber daya manusia.
Gagasan tersebut disampaikan Starry setelah resmi dilantik sebagai Ketua PERSI Sulut periode 2026–2030 di Four Points Hotel Manado, Jumat (14/8/2026).
Pelantikan pengurus PERSI dan Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI) Sulut dipimpin Ketua Umum PERSI Pusat, dr. Bambang Wibowo, Sp.OG, Subsp.K.Fm, MARS, FISQua, FCHMC, FISOG, didampingi Ketua Umum MAKERSI Pusat, Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si., Sp.FM, Subsp.EM(K), DFM.
Dalam kepengurusan periode 2026–2030, posisi Ketua MAKERSI Sulut dipercayakan kepada Dr. dr. Erwin Gidion Kristanto, SH, Sp.FM, Subsp.PF(K), FISQua.
Menurut Prof Starry, pola rujukan rumah sakit saat ini perlu menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan pelayanan kesehatan. Rujukan, kata dia, tidak semestinya hanya ditentukan berdasarkan kedekatan atau klasifikasi rumah sakit, tetapi juga melihat kompetensi yang tersedia.
Untuk itu, PERSI Sulut akan mendorong penyusunan alur rujukan dan rujuk balik antar-rumah sakit berdasarkan data kompetensi yang dimiliki masing-masing rumah sakit.
Selain pembenahan sistem rujukan,Prof Starry menyiapkan jejaring pengampuan dan transfer kompetensi antar-rumah sakit. Kerja sama tersebut diarahkan tidak hanya untuk penguatan sumber daya manusia, tetapi juga mencakup riset di bidang kesehatan.
Langkah berikutnya adalah mendorong sinkronisasi data antar-rumah sakit. Data yang lebih terintegrasi dinilai penting untuk membantu melihat pola penyakit, menentukan intervensi medis serta memperkuat tata kelola klinis di Sulawesi Utara.
Prof Starry juga menilai kondisi geografis Sulawesi Utara yang terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi antar-rumah sakit, bukan menjadi alasan untuk saling berkompetisi.
“PERSI akan memperjuangkan kepentingan rumah sakit, sedangkan MAKERSI bertugas menjaga agar perjuangan tersebut tetap berada di koridor etik dan tidak kehilangan arah,” ujar Prof Starry.
Dalam kepengurusan baru tersebut, PERSI Sulut juga akan memberi perhatian pada penguatan kapasitas SDM, termasuk membentuk forum diskusi untuk mencari solusi terhadap persoalan klaim BPJS Kesehatan.
Pendampingan pemenuhan standar sarana rawat inap, terutama bagi rumah sakit kecil dan rumah sakit di wilayah kepulauan, juga masuk dalam agenda PERSI Sulut periode 2026–2030.
Prof Starry mengatakan kepemimpinan di PERSI bukan sekadar penghargaan, tetapi tanggung jawab bersama untuk memajukan perumahsakitan di Sulawesi Utara.
“Apa yang kita kerjakan hari ini berdiri di atas fondasi kuat yang telah dibangun oleh pengurus sebelumnya. Hari ini kita mulai bekerja, belajar bersama, dan melangkah bersama,” katanya.
