Perayaan Idul Fitri,Gubernur Yulius Ingatkan Toleransi Bukan Warisan, Tapi Dijaga Setiap Hari

berita terbaru, Manado, Sulut10996 Dilihat

MONITORSULUT,MANADO — Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Sparta Tikala, Sabtu (21/3/2026), tak sekadar menjadi penanda berakhirnya Ramadan.

Di tengah ribuan jamaah, Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, justru mengangkat pesan yang lebih dalam, kerukunan adalah hasil kerja kolektif, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.

Alih-alih hanya menekankan kemenangan spiritual, Yulius mengingatkan bahwa harmoni sosial di Sulawesi Utara lahir dari kesadaran masyarakat untuk terus merawat perbedaan. Ia menyinggung predikat daerah ini sebagai “laboratorium toleransi” yang menurutnya tidak muncul begitu saja.

“Kerukunan ini bukan hadiah. Ini hasil dari kesabaran dan komitmen masyarakat untuk saling menjaga,” ujarnya di hadapan jamaah.

Dalam suasana Idul Fitri yang identik dengan saling memaafkan, Yulius mendorong agar nilai tersebut tidak berhenti pada seremoni tahunan.

Ia mengajak umat Muslim menjadikan momentum ini sebagai titik awal memperkuat solidaritas lintas agama, sejalan dengan semangat lokal “Torang Samua Basudara”.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada bagaimana masyarakat merespons perbedaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia mengingatkan agar sekat-sekat identitas tidak diberi ruang untuk merusak harmoni yang sudah terbangun.

Sholat Idul Fitri tersebut dipimpin oleh Imam Ustadz Anis R. Toma, sementara khutbah disampaikan oleh Ir. H. Djafar Alkatiri.

Sejumlah pejabat Pemerintah Kota Manado dan tokoh agama turut hadir dalam pelaksanaan ibadah tersebut.

Menutup sambutannya, Gubernur menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada seluruh masyarakat, sembari berharap semangat kebersamaan tetap terjaga, bahkan setelah gema takbir mereda.

(Yulia)