Pemkab Sangihe Hadirkan Santer TB, Perkuat Pengawasan Pengobatan Pasien Tuberkulosis

Sangihe5 Dilihat

MONITORSULUT,Sangihe- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) melalui pemanfaatan teknologi digital. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menghadirkan Santer TB (Sangihe Tuntas Eliminasi Tuberkulosis), sebuah platform berbasis web untuk memantau pasien agar menjalani pengobatan hingga tuntas.

Aplikasi yang diluncurkan Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, pada Senin (6/7/2026), merupakan inovasi Dinas Kesehatan Daerah dalam mengatasi persoalan Lost to Follow Up (LTFU), yaitu kondisi ketika pasien menghentikan pengobatan sebelum waktunya.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, menjelaskan bahwa Santer TB dirancang untuk menghubungkan puskesmas, Dinas Kesehatan, kader TB, pasien, hingga keluarga pasien dalam satu sistem pemantauan terpadu.

“Salah satu fitur unggulan aplikasi ini adalah Electronic Directly Observed Treatment (iDOT), yang memungkinkan pengawasan konsumsi obat dilakukan secara elektronik. Melalui fitur tersebut, pasien atau anggota keluarga dapat mengunggah video saat pasien mengonsumsi obat. Video tersebut kemudian diteruskan secara otomatis kepada kader TB, puskesmas, hingga Dinas Kesehatan sehingga proses pemantauan dapat dilakukan secara langsung,” kata Pasandaran.

Lebih lanjut Ia mengatakan, Santer TB juga dilengkapi sistem peringatan dini. Apabila pasien tidak mengonsumsi obat selama 24 jam, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada petugas kesehatan. Jika belum ada tindak lanjut, tenaga kesehatan dapat melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien untuk memastikan pengobatan tetap berjalan.

“Selain pemantauan pengobatan, aplikasi ini menyediakan layanan telekonsultasi yang memungkinkan pasien berkonsultasi dengan tenaga kesehatan maupun dokter tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Pasandaran berharap Fasilitas ini dapat membantu pasien yang tinggal di wilayah terpencil agar tetap memperoleh pendampingan medis. Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit tipe C atau mendapatkan pendampingan dokter konsultan di Rumah Sakit Kandou.

Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, mengatakan bahwa kehadiran Santer TB merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung target eliminasi tuberkulosis di Indonesia pada 2030.

Menurutnya, TB masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius, terutama karena sebagian pasien menghentikan pengobatan ketika merasa kondisi tubuhnya sudah membaik.

Padahal, pengobatan yang tidak tuntas berisiko menyebabkan resistansi obat sehingga penanganan penyakit menjadi lebih sulit.

“TB dapat disembuhkan apabila pasien disiplin menjalani pengobatan hingga selesai sesuai anjuran tenaga kesehatan. Karena itu, pengawasan yang baik sangat diperlukan agar tidak ada pasien yang putus berobat,” ujar Thungari.

Ia juga mengajak seluruh kader TB untuk aktif mendata warga yang diduga terpapar tuberkulosis serta memperbarui data secara berkala melalui aplikasi Santer TB.

Menurut Thungari, penemuan kasus sejak dini dan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk mencegah penularan TB di tengah masyarakat.

Saat ini, Santer TB masih dikembangkan dalam versi berbasis web. Ke depan, platform tersebut diharapkan semakin optimal dalam mendukung pemantauan pengobatan pasien sekaligus mempercepat upaya eliminasi tuberkulosis di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Melalui inovasi ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe berharap penanganan TB tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan dan menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan medis.(Moy)