MONITORSULUT——-Di ujung utara Kota Manado, ketika matahari mulai turun perlahan ke garis cakrawala, laut di antara Pulau Bunaken dan Pantai Rap-Rap Tongkaina berubah menjadi panggung alam yang memukau. Warna air laut bergradasi dari hijau kebiruan di tepian mangrove hingga biru tua di tengah selat, sementara siluet Gunung Manado Tua berdiri megah menemani perjalanan perahu-perahu kecil yang melintas.
Selat Bunaken–Rap-Rap Tongkaina kini mulai dilirik sebagai salah satu potensi wisata bahari paling menjanjikan di Sulawesi Utara. Jalur laut sepanjang sekitar 4,5 kilometer ini bukan sekadar lintasan menuju Pulau Bunaken, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata alam yang lengkap: paddling, kayaking, wisata mangrove, fotografi sunset, hingga wisata budaya pesisir.
Arus laut yang dinamis dan perubahan karakter air setiap jam menciptakan sensasi tersendiri bagi wisatawan pecinta petualangan laut. Di beberapa titik, kedalaman laut bahkan mencapai 500 hingga 1.500 meter, menjadi rumah bagi berbagai biota tropis khas perairan Sulawesi Utara.
Dari sisi Tongkaina, suasana pesisir masih terasa alami. Hutan mangrove membentang di sepanjang pantai, sementara aktivitas nelayan tradisional tetap hidup berdampingan dengan lalu lalang speed boat wisata dan lepa-lepa masyarakat. Kawasan ini juga menyimpan cerita rakyat lokal yang melekat di titik-titik seperti Batu Meja dan Tanjung Pisok, yang sejak lama dikenal sebagai jalur pelayaran tradisional dan lokasi favorit memancing warga.
Keindahan alam yang berpadu dengan kehidupan masyarakat pesisir membuat kawasan ini dinilai sangat potensial menjadi destinasi wisata bahari terpadu di Kota Manado. Selain menghadirkan panorama laut yang eksotis, kawasan ini juga menjadi bagian penting dari ekosistem Taman Nasional Bunaken sebagai jalur migrasi ikan dan penyangga ekosistem mangrove.
Ketua STIEPAR Manado, Dr. Drevy D. Malalantang, S.Si., SE., M.Pd., MM menyatakan dukungannya terhadap program pengembangan pariwisata Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang dipimpin Gubernur Sulut, Yulius Selvanus.
Menurut Drevy, potensi wisata bahari di kawasan Selat Bunaken–Rap-Rap Tongkaina perlu dikembangkan secara serius karena memiliki daya tarik yang lengkap, mulai dari keindahan alam, olahraga wisata, hingga edukasi lingkungan.
“Kawasan Selat Bunaken sampai Rap-Rap Tongkaina memiliki kekuatan besar untuk menjadi ikon wisata bahari baru di Sulawesi Utara. Ini bukan hanya tentang panorama laut yang indah, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan wisata yang berbasis konservasi, budaya masyarakat pesisir, dan sport tourism. Kami dari STIEPAR Manado sangat mendukung program pemerintah provinsi dalam mendorong destinasi-destinasi baru yang berkelanjutan dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat lokal,” ujar Drevy.
Ia menambahkan, konsep wisata berbasis pengalaman seperti kayaking dan paddling saat sunset akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Wisatawan saat ini mencari pengalaman yang autentik. Mendayung di jalur laut Bunaken–Tongkaina sambil menikmati sunset dan panorama Manado Tua adalah pengalaman yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia,” tambahnya.
Dengan perpaduan antara pesona laut, nilai ekologis, budaya pesisir, dan akses yang dekat dari pusat Kota Manado, Selat Bunaken–Rap-Rap Tongkaina dinilai memiliki peluang besar menjadi wajah baru wisata bahari Sulawesi Utara di masa depan.
