Koperasi Desa Jadi Senjata Baru Pemerintah Tekan Kemiskinan Ekstrem Hingga Nol Persen

MONITORSULUT,JAKARTA —–Pemerintah kian memfokuskan strategi penghapusan kemiskinan ekstrem dengan memperkuat peran koperasi desa sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat. Melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), peluang kerja baru dibuka luas, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan terbawah.

Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, menegaskan bahwa pendekatan berbasis desa menjadi kunci untuk menjangkau langsung kantong-kantong kemiskinan. Ia menyebut, jumlah penduduk dalam kategori kemiskinan ekstrem kini telah menurun signifikan hingga tersisa sekitar 2,2 juta jiwa.

Pemerintah pun mengarahkan fokus intervensi pada 16.550 desa yang masih menjadi pusat kemiskinan ekstrem hingga akhir 2026. Dalam skema tersebut, Kementerian Koperasi menyiapkan 30.000 unit KDKMP yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Agustus 2026.

“Kunci keberhasilan program ini terletak pada sinkronisasi data antara lokasi koperasi dengan desa sasaran,” ujar Farida usai menghadiri rapat tingkat menteri terkait evaluasi percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem.
Senin (27/04).

Program KDKMP tidak hanya bertujuan menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga membuka akses kerja bagi masyarakat desil 1 hingga desil 4. Berbagai posisi disiapkan, mulai dari tenaga keamanan, pengemudi, penjaga toko, hingga asisten manajer.

Menariknya, pemerintah juga memastikan inklusivitas dalam program ini. Masyarakat yang belum memiliki keterampilan teknis akan tetap dilibatkan melalui program pelatihan dan pendampingan agar mampu memenuhi kebutuhan kerja di koperasi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, mengungkapkan bahwa tren penurunan kemiskinan ekstrem menunjukkan progres positif. Angka kemiskinan ekstrem turun dari 1,26 persen pada Maret 2024 menjadi 0,78 persen pada September 2025.

“Ini menunjukkan sebagian masyarakat sudah berhasil naik kelas melalui intervensi terpadu pemerintah,” kata Muhaimin.

Dengan pendekatan terintegrasi antara penyediaan lapangan kerja, penguatan koperasi, serta pelatihan sumber daya manusia, pemerintah optimistis target nol persen kemiskinan ekstrem pada akhir 2026 bukan sekadar ambisi, melainkan target yang realistis untuk dicapai.

(Yulia****)