Di Tengah Ketidakpastian Global, BI Pastikan Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh

MONITORSULUT,MANADO – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik dan tekanan pasar keuangan internasional, Bank Indonesia (BI) memastikan perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang kuat.

Ketahanan tersebut didukung oleh permintaan domestik yang stabil, konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, serta bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia bersama pemerintah.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, saat membuka kegiatan Bincang Media SENJA (Sinergi dan Jalin Kolaborasi Bersama Media) yang diikuti 29 Jurnalis Ekonomi Sulut.

Menurut Joko, tantangan ekonomi dunia hingga kini masih cukup besar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, turut memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi global karena berdampak pada pasokan energi dunia, khususnya minyak.

“Ketidakpastian global masih sangat tinggi. Kondisi geopolitik di Timur Tengah sangat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dunia karena berdampak pada pasokan minyak internasasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, situasi tersebut membuat sejumlah bank sentral di berbagai negara memperketat kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga guna meredam tekanan inflasi. Di saat yang sama, penguatan dolar Amerika Serikat mendorong investor mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), sehingga memberi tekanan terhadap mata uang berbagai negara, termasuk rupiah.

Meski demikian, Joko menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang baik. Pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang oleh permintaan domestik yang kuat, konsumsi rumah tangga yang stabil, belanja pemerintah, serta investasi yang terus membaik.

Selain itu, ketahanan eksternal Indonesia juga dinilai tetap terjaga melalui cadangan devisa yang memadai, kembali masuknya aliran modal asing (capital inflow), serta stabilitas nilai tukar rupiah yang terus dipertahankan melalui berbagai kebijakan Bank Indonesia.

“Memang tidak mudah. Namun dengan berbagai langkah yang dilakukan Bank Indonesia, kami meyakini kondisi ekonomi Indonesia tetap dapat dijaga agar stabil dan tidak menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat,” katanya.

Sebagai respons terhadap dinamika global, Bank Indonesia telah menempuh berbagai langkah, termasuk menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada pada sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Menurut Joko, kebijakan moneter tersebut tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga mempertahankan daya beli masyarakat dengan memastikan inflasi tetap terkendali.

“Kebijakan moneter kami diarahkan untuk menjaga stabilitas, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap didorong agar pertumbuhan ekonomi terus berjalan,” jelasnya.

Melalui forum Bincang Media SENJA, Bank Indonesia berharap media dapat menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi dan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat mengenai berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan silaturahmi serta pelepasan tiga pegawai Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara yang mendapat penugasan baru, yakni I Made Dony Wirawan yang bertugas di Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Raja Alfredo Siregar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, serta Robinsar Jogi Y. Manullang di Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia.