MONITORSULUT,MANADO — Satu tahun pertama kepemimpinan duet Yulius Selvanus dan J. Victor Mailangkay tak sekadar diukur dari daftar program atau angka capaian. Justru, fondasi terpenting yang sedang mereka bangun adalah kepercayaan sesuatu yang tak tercatat dalam laporan, tetapi terasa di tengah masyarakat.
Dalam momen syukuran yang digelar awal Maret lalu, Yulius memilih menjauh dari pendekatan normatif. Ia tidak memamerkan statistik, melainkan menyoroti arah besar kepemimpinan: memastikan setiap kebijakan tetap berada dalam satu garis komando yang berpihak pada rakyat.
Bagi Yulius, tahun pertama hanyalah tahap merapikan fondasi. Ia mengibaratkan pembangunan sebagai simpul yang saling terikat di mana infrastruktur, ekonomi rakyat, dan stabilitas sosial tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
“Yang kita bangun bukan hanya fisik, tapi juga rasa percaya masyarakat,” ujarnya.

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana kepemimpinan Yulius–Victor mencoba keluar dari pola administratif semata, menuju model yang lebih menekankan konsistensi arah dan kohesi internal pemerintahan.
Di sisi lain, dinamika duet ini juga menjadi perhatian. Latar belakang militer yang melekat pada Yulius berpadu dengan pengalaman hukum dan politik Victor. Perbedaan ini bukan menjadi jarak, melainkan ruang untuk saling mengisi—selama tetap berada dalam satu ritme kebijakan.

Keduanya menyadari, tantangan ke depan tidak lagi sekadar menjalankan program, tetapi menjaga soliditas di tengah tekanan yang semakin kompleks.
Komitmen terhadap integritas pun kembali ditegaskan. Yulius secara terbuka mengingatkan jajarannya agar tidak tergoda jalan pintas yang berisiko merusak kepercayaan publik. Baginya, disiplin dalam proses adalah kunci menjaga arah pembangunan tetap lurus.
Selain itu, ia menempatkan stabilitas sosial sebagai prasyarat utama pembangunan. Nilai-nilai lokal seperti Mapalus dan semangat “Torang Samua Basudara” kembali ditekankan sebagai energi sosial yang menjaga Sulawesi Utara tetap dikenal sebagai ruang toleransi.
Pesan yang muncul dari tahun pertama ini cukup jelas: keberhasilan pemerintahan bukan hanya tentang apa yang dibangun, tetapi bagaimana cara membangunnya dan apakah masyarakat percaya pada proses tersebut.

Dengan pijakan itu, duet Yulius–Victor memasuki tahun kedua dengan satu tantangan besar: menjaga konsistensi, sekaligus membuktikan bahwa fondasi yang dibangun hari ini mampu bertahan dalam dinamika ke depan.
(Advetorial/yulia)







