Cabai Rawit Tekan Harga di Boltara, BI Dorong Penguatan Pasokan dan Distribusi

BOLMUT, MonitorSulut.com — Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam pengendalian inflasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Tekanan harga komoditas tersebut tercermin dari tingginya Indeks Perkembangan Harga (IPH) Bolmut.

Kondisi itu disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara, Purwanto, dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kabupaten Bolmut, 8 September 2026.

Dalam paparannya, Purwanto menyebut cabai rawit sebagai salah satu komoditas yang perlu mendapat perhatian di tengah perkembangan harga pangan di Sulawesi Utara.

Selain cabai rawit, sejumlah komoditas yang turut memberikan tekanan harga antara lain kangkung, angkutan udara, daun bawang dan cabai merah.

Menghadapi kondisi tersebut, BI bersama TPID mendorong pengendalian inflasi melalui kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

Sejumlah langkah yang dapat dioptimalkan antara lain melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) serta Kerja Sama Antardaerah (KAD).

Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus memastikan distribusi pangan berjalan dengan baik ketika terjadi tekanan harga komoditas.

Dalam pertemuan yang dipimpin Bupati Bolmut Sirajudin Lasena itu, penguatan ketahanan pangan juga menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya menghadapi tantangan perubahan iklim dan tekanan pasokan pada sejumlah komoditas pangan.

Pemkab Bolmut menyebut cabai rawit dan beras premium sebagai komoditas yang menghadapi tekanan pasokan. Di sisi produksi, daerah tersebut memiliki potensi lahan sawah yang besar, namun masih menghadapi keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan), terutama saat panen serentak.

Penguatan produksi pangan dan kelancaran distribusi menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan di daerah sekaligus meredam tekanan harga komoditas pangan.