Di Green Press Community SIEJ, Huayou Indonesia Tegaskan Peran Midstream dan Komitmen Rantai Pasok Nikel Berkelanjutan

MONITORSULUT,Minahasa Utara —–Huayou Indonesia memaparkan komitmennya terhadap praktik industri nikel yang berkelanjutan dalam kegiatan Green Press Community yang diselenggarakan oleh Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) di Hotel Sutan Raja, Sabtu (07/02).

Dalam forum tersebut, J. Philips Makarawung, External Relation Representative Huayou Indonesia, menyampaikan bahwa Huayou memahami tantangan keberlanjutan yang kerap melekat pada industri pengolahan nikel di Indonesia.

Menurutnya, keberlanjutan tidak hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) dan kebijakan nasional, tetapi juga sebagai bagian dari transformasi industri global dalam merespons risiko perubahan iklim.

Philips menjelaskan bahwa dalam rantai pasok hilirisasi nikel di Indonesia, Huayou berperan pada tahap tengah (midstream), khususnya pada kegiatan peleburan (smelting) dan pengolahan bijih nikel menjadi produk antara dan produk hilir melalui proses kimia.

Ia menegaskan bahwa Huayou tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan penambangan, namun tetap memikul tanggung jawab untuk menjaga komitmen keberlanjutan di seluruh rantai industri.

Dalam kerja sama dengan penambang maupun pemasok nikel, Huayou Indonesia menerapkan prinsip Good Mining Practice (GMP) sebagai prasyarat utama sebelum pemasok masuk ke dalam rantai pasok. Selain itu, perusahaan juga mengikuti standar Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk pedoman OECD Due Diligence untuk rantai pasok mineral yang bertanggung jawab serta kebijakan Responsible Mineral Sourcing yang menekankan praktik ketenagakerjaan, perlindungan lingkungan, etika bisnis, serta kesehatan dan keselamatan kerja.

Untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas, Menurut Philips, Huayou melibatkan verifikasi independen oleh auditor internasional.

Proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Huayou di Morowali dan Weda Bay telah memperoleh sertifikasi dari Responsible Minerals Initiative (RMI) melalui skema Responsible Minerals Assurance Process (RMAP), sebagai bentuk pengakuan internasional atas penerapan tata kelola rantai pasok mineral dan kebijakan ESG perusahaan.

Menanggapi laporan yang dirilis oleh Satya Bumi terkait dugaan penggunaan bijih nikel dari Pulau Kabaena untuk produksi baterai kendaraan listrik, Philips memberikan klarifikasi bahwa hingga saat ini operasional Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) masih berada pada tahap konstruksi dan belum memasuki fase produksi. Oleh karena itu, Huayou belum menggunakan bijih nikel dari lokasi mana pun.

Ia menambahkan bahwa meskipun secara geografis IPIP berada dekat dengan sumber daya nikel di Pulau Kabaena, hal tersebut tidak serta-merta berarti pasokan bijih nikel akan berasal dari wilayah tersebut. Ke depan, pemilihan pemasok akan tetap mengacu pada uji tuntas, kode etik Huayou, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, serta pertimbangan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Di akhir pemaparannya, Philips menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan yang disampaikan serta menegaskan keterbukaannya untuk berdialog dengan media dan pemangku kepentingan lainnya guna memperkuat praktik industri nikel yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

(yulia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *