MANADO, MonitorSulut.com — Persoalan cabai rawit di Sulawesi Utara tidak hanya berkaitan dengan tingginya harga di pasar. Kondisi cuaca kering mulai ikut menekan produksi dan pasokan komoditas tersebut.
Data klimatologi yang menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara menunjukkan hari tanpa hujan telah mencapai kategori sangat panjang di 131 lokasi, bahkan kategori ekstrem di 12 lokasi.
Curah hujan juga berada pada kategori rendah di sebagian besar wilayah Sulawesi Utara.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Purwanto, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi produksi pangan, termasuk cabai rawit.
Tekanan pasokan tidak hanya terjadi pada produksi lokal. Sejumlah sentra pasokan dari luar Sulawesi Utara juga mengalami penurunan produksi.
Kondisi itu kemudian ikut tercermin pada harga cabai rawit. Berdasarkan data SP2KP tiga pekan terakhir, rata-rata harga cabai rawit merah di empat daerah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulut masih berada jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).
Di Manado, harga tercatat 102 persen di atas HAP. Kotamobagu 123 persen, Minahasa Utara 118 persen, sedangkan Minahasa Selatan mencapai 155 persen di atas HAP.
Tekanan cabai rawit juga memberi pengaruh terhadap inflasi Sulawesi Utara. Pada Agustus 2026, inflasi Sulut tercatat 0,29 persen secara bulanan dengan inflasi kumulatif Januari hingga Agustus sebesar 3,68 persen. Cabai rawit memberikan andil 0,33 persen terhadap inflasi bulanan tersebut.
Untuk mengantisipasi tekanan pasokan, TPID Sulut melalui koordinasi Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Satgas Pangan Polda Sulut kembali melakukan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) Tahap II.
Sebanyak 2.500 kilogram atau 84 koli cabai rawit merah didatangkan dari Probolinggo, Jawa Timur. Pasokan tersebut tiba di Manado pada Minggu malam, 20 September 2026, untuk kemudian disalurkan ke lima titik pasar pada Senin, 21 September.
Distribusi tahap kedua diperluas ke Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan di Manado, Pasar Airmadidi di Minahasa Utara, Pasar Amurang di Minahasa Selatan, serta Pasar 23 Maret Kotamobagu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Utara, Rahel Ruth Rotinsulu, mengatakan intervensi tersebut diperlukan sebagai respons terhadap kondisi pasokan yang sedang dihadapi daerah.
Namun, menurut Rahel, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah juga perlu diimbangi dengan penguatan produksi lokal.
“Intervensi jangka pendek” tidak boleh berhenti pada distribusi pangan. Penguatan produksi lokal dan ketahanan pangan daerah tetap menjadi bagian yang perlu diperkuat menghadapi tekanan pasokan.
Sementara itu, Satgas Pangan Polda Sulawesi Utara melakukan pengawasan terhadap harga dan penyaluran cabai hingga tingkat pengecer.
Di sisi lain, kondisi cuaca masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mencatat kondisi kering masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Utara.
